Minggu, 20 Desember 2015

Cerpen (Cerita Pendek) Aafiya



KESABARAN HATI MELISA




Bumi dipasena Jaya, tepatnya di kab.Tulang Bawang kec. Rawajitu Timur desa yang dibangun oleh PT.udang terbesar se Asia tenggara. Luas sungai yang mengelilingi desa ini disebut warga dengan kanal, Jembatan panjang yang menghubungkan blok perumahan PT sudah menjadi pemandangan indah di desa bumi dipasena jaya. Sebagai desa yang maju maka perusahaan sudah memiliki kendaraan yang canggih di banding sampan sebagai alat transportasi warga desa yakni bernama speed, yah seperti namanya speed artinya cepat dialah kendaraan mirip perahu bedanya kini lebih cepat sebab dilengkapi mesin yang diisi dengan bahan bakar solar. Asyik jika menaiki kendaraan ini ini melisa adalah salah satu anak petambak udang yang hobi pulang kampung. Orang tuanya pun selalu menyewa speed untuk mengantarkan pulang kerumah. Para warga memiliki dua tambak udang dan melisa juga punya banyak udang katanya. darimakah asal udang yang enak ini matanya mulai menggeliat, ia hampir lupa melepas seragam dan kaos kakinya karena sudah menebak mama pasti menggoreng udang kesukaanya. Harum aroma udang menarik-narik hidung mungilnya untuk terus mencari dimana udang kesukaannya.
“Ma.. aku laper!”
Melisa mulai mencari mamanya ia tahu mama tidak suka jika melisa tidak disipli, segera ia melepas pakaiannya dan ia kenakan pakain pendek walau ia sampai lupa melepas kaos kaki.
 “Iya nak buka saja dilemari”  Cetus mama.
Perutnya semakin bernyanyi riang saat ia temukan harta karun berada dalam lemari. Udang windu goreng yang enak. Segera ia menyiduk nasi dari risecooker.
“Ma.. alin mana?”  Tanya melisa.
“Ini tidur mel, kok udah pulang sekolah nak?” ujar mama.
 “Iya ma.. tadi Cuma bersih-bersih.”
“Melisa udah cuci tangan?” Tanya mama.
“Sudah ma..” jawab nya singkat.
Melisa membawa makannya keluar. Saat itu tepat jam 12 siang panasnya menusuk hingga atap rumah, ia merasa kepanasan segera ia membawa secangkir minum dan makan diluar, gadis kecil berambut panjang ini terus melihat kondisi rumahnya mencari tempat yang nyaman untuk makan. Ia tahu matahari tepat diatas kepalanya segera turun dan ia menaiki pohon rindang miliknya. Melisa sangat gemar memanjat disanalah dia nyaman bermain dan akhirnya ia makan dengan lahapnya diatas pohon. Jam menunjukan tepat 2 siang, angin silir melewati celah dedaunan pohon meliuk-liuk gadis berambut panjang kini sangat menikmati suasana diatas pohon ia tak takut bahkan setiap pohonya meliuk-liuk ia nikmati seperti naik kuda-kudaan. Sepi siang itu mama dan aline pasti tidur siang, ujar melisa. Gadis kecil ini tak pernah kantuk meski lelah tersa mulai merayap, tapi apadaya seketika ia tertidur.
“Melisaaaaaa”
Suara mama mulai terdengar hinga ngiang telinganya. Seketika ia bangun.
 “Iya ma.. melisa turun ma”.
Tepat mama sudah dibawah dan melisa dicubit pahanya oleh mama. Sedih sekali rasanya tapi melisa diam dan berlari setelah dicubit mamanya. Ia sudah tahu kesalahannya sebab melisa sudah sering kali dicubit mamanya lantaran memanjat pohon. Gadis kecil ini pun langsung berlari ke dapur. Mamanya pun berbicara panjang lebar kepadanya. Namun melisa hanya diam saat mama mulai menasehatinya, melisa tak begitu paham maksud mama. Ia hanya menahan sakit dipahanya. Saat mama minta maaf melisa hanya terdiam menunduk, gadis rambut panjang ini menerima maaf sang mama. Tapi mama merasa bersalah telah mencubit karena mama menggap melisa nakal tidak mau nurut.
 “Mama gak mau melisa jatuh sayang..” isak mama saat memeluk gadis mungilnya.
 Gadis kecil ini tetap terdiam terpaku. Tak ada airmata yang menetes didepan mamanya. Hanya bola matanya yang hitam sekilas mulai berkaca-kaca saat melihat mamanya bicara. Poninya menutup mata hitamnya, dan melisa masih saja ingin menunduk.
“ Mama minta maaf ya sayang, sekarang cepat mandi, nanti jam 3 berangkat ngaji nak.”
Mama kembali tersenyum untuk gadis manis ini. Wajahnya tak membalas senyum mama tirus dan cenderung dingin, langsung bergegas melisa langsung mengambil handuk namun tetap bibirnya terkunci. Poninya bergerak kesana kemari hampir menutupi mata hitamnya gadis manis ini pun mandi dengan muka masam. Ia merasa tidak enak dengan mama, hatinya berkecamuk pasti mama mengira melisa nakal. Padahal melisa berusaha didepan mama untuk tidak cengeng. melisa adalah gadis yang pendiam dan pemalu. Tiba-tiba ia menangis didalam kamar mandi, tangisannya pelan sampai merah mata dan hidung mungilnya ketika melihat biru dipahanya akibat cubitan mamanya. Sakit sekali saat disentuh, melisa pun mulai menangis sendiri tanpa diketahui sang mama. Ia cukup kesal atas kejadian ini.
 “Mengapa aku dicubit.. Tapi mama bilang sayang.” Lirihnya tak mengerti sikap mama.
            Bergegas ia bersiap dan mulai menghapus airmatanya lalu segera bergegas berangkat mengaji, seperti biasa aline pun bermain dulu dengannya sebelum melisa berangkat.
 “Kaka sa.. kaka sa.. lin itut ya”.
 Suara cedal aline minta ikut.
“Aline kakak sa, mau ngaji nanti  kalo udah pulang main sama lin ya.” Ujar melisa tenang.
 “Nda au.. nda au itut..itut..” rengek si kecil aline.
 “Mama.. dek aline ma.”
 Melisa pun bergegas meninggalkan aline yang masih merengek dan membiarkan sang mama cepat datang dan menenangkan aline.
“Sudah nak.. berangkat.”  Ujar mama.
 “Assalamualaikum”.
Mama pun menjawab salam dan si kecil aline masih merengek minta ikut.
            Dijalan melisa begitu semangat sambil menikmati suasana redup dan indahnya bunyi kincir air di tambak yang menyegarkan. Pasti udang-udang didalam tengah asyik seperti hatiku. Meski hari ini aku sedang sedih.
“Udang kamu lagi apa, kamu suka dimarahi mama mu nggak?”
 Ucapnya diatas sepedah merahnya sambil mengkayuh santai menikmati pemandangan sore dan silirnya angin. Melisa sangat menikmati kegiatannya, dengan mengaji ia mulai menghafal bacaan solat dan juz amma. Bahkan melisa sudah rajin solat meski belum 5 waktu. Kemandirian melisa membuat dirinya harus menahan perihnya perjuangan ketika sepedahnya lepas rantai, ia sampai bingung bagaimana cara pulang. Melisa paling takut waktu magrib dan panjangnya waktu malam tepat jam 10 malam, bahkan ia sudah buru-buru memejamkan mata, ia merasa sudah telat tidur. Apalagi saat mengerjakan PR dengan asyiknya, tiba-tiba ia mendengar iklan rokok. Secepat kilat ia membereskan bukunya, itulah sugesti menurut gadis kecil ini. Pernah ia menangis saat pulang mengaji suasana hampir gelap dan mentari hampir lenyap menghilangkan setang badanya ternyata mama tidak dirumah. Melisa sangat ketakutan. Untung ada bude rom yang menemani hingga mama pulang.
            Masih menkayuh dan mulai menaiki jembatan. Melisa suka naik jembatan dengan sepedah. Melisa tidak pernah takut. Tetap ia ingat pesan mama.
“Melisaa.. “
“seperti ada yang manggil siapa ya”. Gumannya
“Heh kamu awas minggir”.
Ternyata anak ini, anak laki-laki yang terkenal usil. Melisa pun diam dan menunduk anak laki-laki ini segera lewat dan menendang sepedah melisa. Hampir melisa jatuh menahan sepedah kecilnya.
            “Hahahaha.. cemen kamu” ujar anak laki-laki itu
Melisa hanya terdiam dan menunduk, ia memilih mengalah daripada berurusan dengan si anak tengil itu. Sifat melisa yang pendiam membuat ia menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Tapi kebaikan hatinya membuat ia tidak sedikit yang berteman denganya dan cenderung si sirik yang memusuhinya. Sifat melisa yang sabar membuat para orang tua teman-temannya menjadi kagum. Melisa sering dicubit papa dan mama lantara melisa yang suka tertantang dengan hal baru. Cubitan melisa pun banyak dipaha setiap melisa mengamati dan melisa masih diam untuk menyimpannya sebagai hadiah mama dan papa bahwa mereka ingin anaknya menjadi yang terbaik. Melisa pelajari kekuatan hatinya dengan giatnya menulis dairy, diam-diam ia ceritakan kesedihannya saat dibully disekolah. Bahkan saat ia dimarahi papanya, karena tidak sengaja menjatuhkan adiknya yang masih kecil dari sepedah. Ia sadari kesalahan mengapa aku dimarah papa. Dan kesedihannya dibully pun tak ia ceritkan kepada mama. Gadis kecil ini pun yakin dirinya bisa melewati kesedihannya. Dan benar saja kini melisa banyak teman dan si sirik pun kini sudah meminta maaf untuk tidak mengganggunya. Mama papanya kini sadar bahwa melisa tidak nakal ia sangat patuh dan nurut, mama papa dan dek aline sangat sayang pada melisa. Apalagi melisa sudah rajin solat dan mulai pintar disekolah. Semua tertulis rapi di dairy winne the pooh nya. Jari kecilnya mampu melukiskan kebaikan dan kesabaran hatinya, dibalik perjuangan untuk mama tercinta, tlah ia temukan jawaban mama yang mencintainya.