KESABARAN HATI MELISA
Bumi dipasena Jaya, tepatnya di
kab.Tulang Bawang kec. Rawajitu Timur desa yang dibangun oleh PT.udang terbesar
se Asia tenggara. Luas sungai yang mengelilingi desa ini disebut warga dengan
kanal, Jembatan panjang yang menghubungkan blok perumahan PT sudah menjadi pemandangan
indah di desa bumi dipasena jaya. Sebagai desa yang maju maka perusahaan sudah
memiliki kendaraan yang canggih di banding sampan sebagai alat transportasi
warga desa yakni bernama speed, yah seperti namanya speed artinya cepat dialah kendaraan
mirip perahu bedanya kini lebih cepat sebab dilengkapi mesin yang diisi dengan
bahan bakar solar. Asyik jika menaiki kendaraan ini ini melisa adalah salah
satu anak petambak udang yang hobi pulang kampung. Orang tuanya pun selalu
menyewa speed untuk mengantarkan pulang kerumah. Para warga memiliki dua tambak
udang dan melisa juga punya banyak udang katanya. darimakah asal udang yang
enak ini matanya mulai menggeliat, ia hampir lupa melepas seragam dan kaos
kakinya karena sudah menebak mama pasti menggoreng udang kesukaanya. Harum
aroma udang menarik-narik hidung mungilnya untuk terus mencari dimana udang
kesukaannya.
“Ma.. aku laper!”
Melisa mulai mencari mamanya ia
tahu mama tidak suka jika melisa tidak disipli, segera ia melepas pakaiannya
dan ia kenakan pakain pendek walau ia sampai lupa melepas kaos kaki.
“Iya nak buka saja dilemari” Cetus mama.
Perutnya
semakin bernyanyi riang saat ia temukan harta karun berada dalam lemari. Udang
windu goreng yang enak. Segera ia menyiduk nasi dari risecooker.
“Ma.. alin mana?” Tanya melisa.
“Ini tidur mel, kok udah pulang
sekolah nak?” ujar mama.
“Iya ma.. tadi Cuma bersih-bersih.”
“Melisa udah cuci tangan?” Tanya
mama.
“Sudah ma..” jawab nya singkat.
Melisa
membawa makannya keluar. Saat itu tepat jam 12 siang panasnya menusuk hingga
atap rumah, ia merasa kepanasan segera ia membawa secangkir minum dan makan
diluar, gadis kecil berambut panjang ini terus melihat kondisi rumahnya mencari
tempat yang nyaman untuk makan. Ia tahu matahari tepat diatas kepalanya segera
turun dan ia menaiki pohon rindang miliknya. Melisa sangat gemar memanjat
disanalah dia nyaman bermain dan akhirnya ia makan dengan lahapnya diatas
pohon. Jam menunjukan tepat 2 siang, angin silir melewati celah dedaunan pohon
meliuk-liuk gadis berambut panjang kini sangat menikmati suasana diatas pohon
ia tak takut bahkan setiap pohonya meliuk-liuk ia nikmati seperti naik
kuda-kudaan. Sepi siang itu mama dan aline pasti tidur siang, ujar melisa.
Gadis kecil ini tak pernah kantuk meski lelah tersa mulai merayap, tapi apadaya
seketika ia tertidur.
“Melisaaaaaa”
Suara
mama mulai terdengar hinga ngiang telinganya. Seketika ia bangun.
“Iya ma.. melisa turun ma”.
Tepat
mama sudah dibawah dan melisa dicubit pahanya oleh mama. Sedih sekali rasanya
tapi melisa diam dan berlari setelah dicubit mamanya. Ia sudah tahu
kesalahannya sebab melisa sudah sering kali dicubit mamanya lantaran memanjat
pohon. Gadis kecil ini pun langsung berlari ke dapur. Mamanya pun berbicara panjang
lebar kepadanya. Namun melisa hanya diam saat mama mulai menasehatinya, melisa
tak begitu paham maksud mama. Ia hanya menahan sakit dipahanya. Saat mama minta
maaf melisa hanya terdiam menunduk, gadis rambut panjang ini menerima maaf sang
mama. Tapi mama merasa bersalah telah mencubit karena mama menggap melisa nakal
tidak mau nurut.
“Mama gak mau melisa jatuh sayang..” isak mama
saat memeluk gadis mungilnya.
Gadis kecil ini tetap terdiam terpaku. Tak ada
airmata yang menetes didepan mamanya. Hanya bola matanya yang hitam sekilas
mulai berkaca-kaca saat melihat mamanya bicara. Poninya menutup mata hitamnya,
dan melisa masih saja ingin menunduk.
“ Mama minta maaf ya sayang,
sekarang cepat mandi, nanti jam 3 berangkat ngaji nak.”
Mama
kembali tersenyum untuk gadis manis ini. Wajahnya tak membalas senyum mama
tirus dan cenderung dingin, langsung bergegas melisa langsung mengambil handuk
namun tetap bibirnya terkunci. Poninya bergerak kesana kemari hampir menutupi
mata hitamnya gadis manis ini pun mandi dengan muka masam. Ia merasa tidak enak
dengan mama, hatinya berkecamuk pasti mama mengira melisa nakal. Padahal melisa
berusaha didepan mama untuk tidak cengeng. melisa adalah gadis yang pendiam dan
pemalu. Tiba-tiba ia menangis didalam kamar mandi, tangisannya pelan sampai
merah mata dan hidung mungilnya ketika melihat biru dipahanya akibat cubitan
mamanya. Sakit sekali saat disentuh, melisa pun mulai menangis sendiri tanpa
diketahui sang mama. Ia cukup kesal atas kejadian ini.
“Mengapa aku dicubit.. Tapi mama bilang sayang.”
Lirihnya tak mengerti sikap mama.
Bergegas ia bersiap dan mulai
menghapus airmatanya lalu segera bergegas berangkat mengaji, seperti biasa
aline pun bermain dulu dengannya sebelum melisa berangkat.
“Kaka sa.. kaka sa.. lin itut ya”.
Suara cedal aline minta ikut.
“Aline kakak sa, mau ngaji
nanti kalo udah pulang main sama lin
ya.” Ujar melisa tenang.
“Nda au.. nda au itut..itut..” rengek si kecil
aline.
“Mama.. dek aline ma.”
Melisa pun bergegas meninggalkan aline yang
masih merengek dan membiarkan sang mama cepat datang dan menenangkan aline.
“Sudah nak.. berangkat.” Ujar mama.
“Assalamualaikum”.
Mama
pun menjawab salam dan si kecil aline masih merengek minta ikut.
Dijalan melisa begitu semangat
sambil menikmati suasana redup dan indahnya bunyi kincir air di tambak yang
menyegarkan. Pasti udang-udang didalam tengah asyik seperti hatiku. Meski hari
ini aku sedang sedih.
“Udang kamu lagi apa, kamu suka
dimarahi mama mu nggak?”
Ucapnya diatas sepedah merahnya sambil
mengkayuh santai menikmati pemandangan sore dan silirnya angin. Melisa sangat
menikmati kegiatannya, dengan mengaji ia mulai menghafal bacaan solat dan juz
amma. Bahkan melisa sudah rajin solat meski belum 5 waktu. Kemandirian melisa
membuat dirinya harus menahan perihnya perjuangan ketika sepedahnya lepas
rantai, ia sampai bingung bagaimana cara pulang. Melisa paling takut waktu
magrib dan panjangnya waktu malam tepat jam 10 malam, bahkan ia sudah buru-buru
memejamkan mata, ia merasa sudah telat tidur. Apalagi saat mengerjakan PR
dengan asyiknya, tiba-tiba ia mendengar iklan rokok. Secepat kilat ia
membereskan bukunya, itulah sugesti menurut gadis kecil ini. Pernah ia menangis
saat pulang mengaji suasana hampir gelap dan mentari hampir lenyap
menghilangkan setang badanya ternyata mama tidak dirumah. Melisa sangat
ketakutan. Untung ada bude rom yang menemani hingga mama pulang.
Masih menkayuh dan mulai menaiki
jembatan. Melisa suka naik jembatan dengan sepedah. Melisa tidak pernah takut.
Tetap ia ingat pesan mama.
“Melisaa.. “
“seperti ada yang manggil siapa
ya”. Gumannya
“Heh kamu awas minggir”.
Ternyata
anak ini, anak laki-laki yang terkenal usil. Melisa pun diam dan menunduk anak
laki-laki ini segera lewat dan menendang sepedah melisa. Hampir melisa jatuh
menahan sepedah kecilnya.
“Hahahaha.. cemen kamu” ujar anak
laki-laki itu
Melisa hanya terdiam dan
menunduk, ia memilih mengalah daripada berurusan dengan si anak tengil itu.
Sifat melisa yang pendiam membuat ia menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Tapi
kebaikan hatinya membuat ia tidak sedikit yang berteman denganya dan cenderung
si sirik yang memusuhinya. Sifat melisa yang sabar membuat para orang tua
teman-temannya menjadi kagum. Melisa sering dicubit papa dan mama lantara
melisa yang suka tertantang dengan hal baru. Cubitan melisa pun banyak dipaha
setiap melisa mengamati dan melisa masih diam untuk menyimpannya sebagai hadiah
mama dan papa bahwa mereka ingin anaknya menjadi yang terbaik. Melisa pelajari
kekuatan hatinya dengan giatnya menulis dairy, diam-diam ia ceritakan
kesedihannya saat dibully disekolah. Bahkan saat ia dimarahi papanya, karena
tidak sengaja menjatuhkan adiknya yang masih kecil dari sepedah. Ia sadari
kesalahan mengapa aku dimarah papa. Dan kesedihannya dibully pun tak ia
ceritkan kepada mama. Gadis kecil ini pun yakin dirinya bisa melewati
kesedihannya. Dan benar saja kini melisa banyak teman dan si sirik pun kini sudah
meminta maaf untuk tidak mengganggunya. Mama papanya kini sadar bahwa melisa
tidak nakal ia sangat patuh dan nurut, mama papa dan dek aline sangat sayang
pada melisa. Apalagi melisa sudah rajin solat dan mulai pintar disekolah. Semua
tertulis rapi di dairy winne the pooh nya. Jari kecilnya mampu melukiskan
kebaikan dan kesabaran hatinya, dibalik perjuangan untuk mama tercinta, tlah ia
temukan jawaban mama yang mencintainya.